Rabu, 07 Mei 2008

Carolus

Carolus yang saya maksud di sini adalah rumah sakit yang terletak di bilangan Salemba. Pastilah bagi masyarakat Jakarta, rumah sakit itu banyak meninggalkan kenangan, sampai-sampai ada lagu jaman dulu yang mengisahkan tentang kisah percintaan di sana.

Apakah judul lagunya sama dengan nama rumah sakit, saya lupa. Siapa pencipta atau penyanyinya juga lupa. Tapi, ada syair pertama yang berbunyi dan saya masih ingat:

Aku berpisah di Sint Carolus
Air mataku berlinang

Seterusnya bagaimana, saya lupa syairnya. Tapi, kalau mau tahu secara ringkas riwayat rumah sakit ini bisa klik di websitenya. Hebat ya, rumah sakit bisa punya website. Hebat untuk ukuran Indonesia, lho!

Di dalam layanan itu paling tidak kita mengetahui bahwa rumah sakit itu berdiri sejak tahun 1917. Gile, berarti sebelum Sumpah Pemuda mereka sudah ada. Dua tahun kemudian rumah sekit dibuka untuk umum dengan 40 tempat tidur. Seterusnya bagaimana lihat saja di http://www.rscarolus.or.id/.

Yang saya mau ceritakan adalah kenangan buat saya di rumah sakit itu. Besar buat saya, karena di tempat itulah dua anak perempuan saya lahir. Kemudian menjadi rumah sakit di mana istri pernah menjalani operasi.

Cerita soal anak, Carolus bukan tempat kelahiran saja. Tapi juga perawatan ketika mereka sakit, khususnya adalah demam berdarah. Lahir di sana, kemudian ketika masih kanak-kanak pernah dirawat di sana. Dan saat remaja, mereka pun sempat dirawat di sana.

Pada pertengahan April 2008 lalu, saya kembali bermalam di sana. Berada di suasana rumah sakit yang memiliki taman dengan pohon-pohon dan bangunan tua. Saya menunggui si bungsu Anggia yang berusia 16 tahun terserang demam berdarah. Sebelumnya, si sulung, Dinda, yang kini hampir menyelesaikan kuliahnya di ITB, beberapa tahun lalu sempat pula dirawat di sana.

Tidak banyak perubahan berarti, kecuali pada bangunan depannya. Tempat unit daruratnya masih seperti dulu, begitu pula dengan pengambilan darah, laboratorium, lift, tangga, tempat tunggu, dan sebagainya.

Semua tidak berubah, ya tidak apa-apa. Yang penting masih layak pakai. Begitu pula dengan sisdurnya. Soal sisdur inilah yang tentu menjadi keunggulan Carolus. Apalagi menyangkut kesehatan, sisdur menjadi daya tarik pasien. Sisdur yang dimaksud tidak terlepas dari pelayanan pula. Pelayanan dokter, pelayanan suster, dan pelayanan lainnya.

Keragaman suku dan agama juga terlihat di sana. Carolus identik dengan organisasi Nasrani. Tapi, pelayanan kepada non-Nasrani tetap saja baik. Uniknya, saya melakukan shalat di kamar pasien dengan tanda salib tergantung di dinding kamar. Saya punya alasan, itu terjadi karena keterbatasan tempat dan kondisi.

Anggia sekamar dengan keluarga yang ragam. Seorang ibu yang sedang dirawat dari keluarga Nasrani, sedangkan sang suami yang setia menunggu adalah muslim yang taat dengan shalat. Ia juga tak henti melakukan shalat di kamar. Anak-anaknya ada yang Nasrani dan Islam.

Kebenaran beragama kita serahkan kepada keyakinan masing-masing. Kita tidak boleh memaksakan dan dipaksakan oleh seseorang untuk melakukan keyakinan.

Kehadiran di Carolus itu berbarengan dengan boomingnya film "Ayat-Ayat Cinta" dan akan dibekukannya organisasi Ahmadiyah di Tanah Air.

Tidak ada komentar: